JadiWeb JadiWeb
Blog
Website

Harga Mahal Bukan Jaminan Loading Cepat

5 menit baca
Akbar Aditama

Akbar Aditama

Fullstack Engineer

Harga Mahal Bukan Jaminan Loading Cepat

Semua ini berawal dari diskusi singkat saya di thread beberapa waktu lalu. Salah seorang warga thread menyindir saya yang sempat mempromosikan jasa pembuatan website Rp350.000. Katanya, di dunia profesional klien bayar mahal justru karena butuh web yang loading-nya instan, biar conversion rate nggak zonk. Ditutup dengan “semangat ya jualan web 350 ribunya, semoga lancar cari portofolionya.”

Reaksi pertama saya jujur aja kesel. Tapi nyantol terus di kepala beberapa hari setelahnya.

Karena ada bagian dari sindiran itu yang nggak sepenuhnya salah, cuma bukan di bagian yang dia kira.

Ada Benarnya, Tapi Bukan di Situ

Saya akui, ada bagian yang nggak bisa saya bantah.

Banyak jasa website murah di luar sana yang memang motifnya cuma satu, yaitu ngumpulin portofolio, ngumpulin jam terbang, sambil nunggu momentum buat naikin harga. Nggak ada proses yang dijaga, nggak ada standar yang dipegang, yang penting selesai, yang penting dapet logo client buat ditaro di portofolio.

Kalau itu yang dimaksud “cari portofolio”, saya nggak bisa marah ke sindirannya. Itu pola yang nyata, dan saya ngerti kenapa orang jadi skeptis ke siapa pun yang jualan murah, termasuk saya.

Tapi ada satu klaim di sindiran itu yang saya nggak bisa terima begitu aja, bahwa harga mahal otomatis berarti loading instan, dan harga murah otomatis berarti lambat.

Itu klaim yang kedengarannya logis, tapi keliru kalau dibedah lebih dalam.

Loading Speed Tidak Mengenal Nominal Harga

Loading speed itu nggak ditentukan oleh berapa yang klien bayar. Tapi loading speed ditentukan oleh apa yang berjalan di balik website itu.

Banyak website mahal yang justru lambat karena dibangun di atas CMS besar (WordPress, misalnya) yang ditumpuk dengan puluhan plugin, mulai dari page builder, SEO plugin, form plugin, plugin keamanan, semuanya jalan bareng setiap kali halaman dibuka. Semakin “lengkap fiturnya”, semakin berat juga yang harus diproses server sebelum halaman sampai ke pengunjung. Saya udah lihat sendiri website dengan budget jutaan yang loading-nya 5-6 detik, karena arsitekturnya numpuk.

Sebaliknya, website sederhana yang dibangun dengan arsitektur yang tepat dan modern tanpa beban CMS yang nggak perlu, tanpa puluhan plugin yang saling tumpuk, bisa loading di bawah 1 detik, berapa pun harganya.

Jadi pertanyaan yang sebenarnya adalah bukan “berapa yang dibayar klien”, tapi “apa yang dipakai untuk membangunnya”. Harga itu proxy yang lemah untuk performa. Yang nentuin adalah keputusan teknis di baliknya dan itu sepenuhnya bisa dipisahkan dari nominal harga.

Jadi, Bagaimana Saya Tetap Bisa Jual Murah?

Empat hal yang bikin ini bisa jalan:

Infrastruktur yang dipecah, bukan ditumpuk.

Server saya sendiri, dipecah jadi container terpisah per klien. Bukan shared hosting murah yang satu server dibagi ratusan website sampai lambat semua, dan bukan juga klien harus bayar hosting sendiri yang mahal. Tiap website tetap terisolasi, tapi biayanya bisa saya tekan karena saya yang kelola infrastrukturnya secara keseluruhan.

Proses provisioning-nya juga nggak manual.

Setup container, deploy, sampai konfigurasi dasar tiap website dijalankan lewat automasi/orkestrasi yang saya bangun sendiri, bukan saya buka terminal satu-satu tiap ada klien baru. Ini yang bikin nambah klien baru nggak nambah beban kerja secara linear, jadi efisiensi infrastrukturnya tetap kejaga meski jumlah klien bertambah.

Proses yang tetap dipegang manusia, bukan diserahkan penuh ke AI.

Ini bagian yang sering disalahpahami. AI memang saya pakai, tapi bukan untuk mendesain atau merancang dari nol. Saya yang kumpulkan referensi, saya yang susun wireframe. Keputusan soal struktur, hierarki, dan rasa desainnya tetap di tangan saya. AI baru masuk di tahap eksekusi, generate kode dari wireframe itu, dalam batas yang sudah saya tentukan lewat framework yang saya bangun sendiri.

Dibangun di atas sistem sendiri, bukan CMS yang numpuk plugin.

Website-website ini saya bangun di atas Njin, framework yang saya kembangkan sendiri pakai Bun, Elysia, dan EdgeJS. Nggak ada plugin yang ditumpuk, nggak ada bloat dari fitur yang nggak terpakai. Strukturnya juga dikunci, bagian inti framework nggak bisa diubah sembarangan, termasuk oleh AI yang saya pakai untuk eksekusi. Jadi setiap website yang keluar dari sistem ini punya standar dasar yang sama, nggak peduli berapa harganya.

Hasilnya, biaya produksi saya memang rendah, tapi bukan karena saya potong proses. Biaya rendah karena cara saya membangun sistem ini dari awal dirancang untuk efisien, bukan karena saya skip langkah yang bikin website jadi layak pakai.

Hasil Uji GTMetrix Website Client Jadiweb.id

Soal “Cari Portofolio”

Soal sindiran “semoga lancar cari portofolionya”, saya nggak akan pura-pura itu nggak ada benarnya.

Iya, salah satu tujuan dari harga promo ini memang untuk membangun portofolio awal. Tapi saya pikir ini bukan sesuatu yang harus disembunyikan atau bikin malu. Setiap orang yang mulai dari nol, termasuk vendor besar sekalipun di masa awal mereka butuh portofolio nyata sebelum bisa jual dengan harga penuh. Bedanya cuma di mana garis antara “cari portofolio” dan “asal jadi” itu ditarik.

Buat saya, garis itu ada di prosesnya. Apakah tetap ada standar yang dijaga meski harganya rendah, atau standar itu yang pertama dikorbankan begitu harga ditekan. Tiga hal di bagian sebelumnya yaitu infrastruktur, kontrol manusia di proses desain, dan sistem yang dikunci dari penyimpangan, itu jawaban saya soal standar yang tetap saya pegang.

Soal Njin Sendiri

Satu hal lagi yang perlu saya jujur soal ini yaitu Njin, framework yang jadi fondasi semua ini, masih dalam tahap beta. Baru beberapa bulan dikembangkan, dan API-nya masih bisa berubah sebelum versi stabil.

Tapi ini bukan sistem tertutup yang cuma saya yang pegang kuncinya. Repo-nya open source, bisa dicek siapa saja, termasuk Anda yang sedang baca ini. Saya nggak butuh klaim “framework paling canggih” untuk membuktikan apa yang saya jelaskan di atas. Saya cuma butuh sistem yang strukturnya jelas dan bisa diaudit, apa yang berjalan, apa yang dibatasi, dan apa yang tidak boleh disimpangi, termasuk oleh AI yang saya pakai untuk eksekusi.

Kembali ke Sindiran Awal

Harga mahal bukan jaminan loading cepat, dan harga murah bukan jaminan asal-asalan. Dua-duanya cuma angka. Yang sebenarnya menentukan adalah apa yang terjadi di belakang angka itu, arsitekturnya, siapa yang pegang kendali di proses desainnya, dan standar apa yang tetap dijaga meski harganya ditekan serendah mungkin.

Saya nggak keberatan kalau orang skeptis lihat harga Rp350.000 dan curiga. Itu wajar, dan saya ngerti kenapa. Tapi sebelum nyimpulkan “murah pasti sembarangan”, coba tanya dulu, apa yang sebenarnya berjalan di baliknya? Itu pertanyaan yang lebih layak ditanyakan dibanding sekadar lihat nominal di kepala promo.

Buat yang masih nyindir sambil ngangkat gelas, semangat juga, ya. 🍻